Driver Gojek Difitnah Curi Pesanan, Foto Dipajang di Mie Gacoan
- account_circle redaksi
- calendar_month Rab, 4 Feb 2026
- visibility 234
- comment 0 komentar

DEMOKRATIS.ID – Bandar Lampung – Seorang driver Gojek bernama Maruli Rotua Pandiangan mengaku menjadi korban dugaan pencemaran nama baik setelah fotonya dipajang di salah satu gerai Mie Gacoan yang beralamat di Jalan ZA Pagar Alam, Bandar Lampung.
Pemajangan foto tersebut disertai narasi yang menimbulkan kesan seolah-olah Maruli telah melakukan pencurian pesanan. Rabu (4/2/2026)
Peristiwa ini bermula pada Jumat sekitar pukul 11.00 WIB, ketika Maruli menerima pesanan pengantaran Mie Gacoan dengan tujuan konsumen di Jalan Kopi, Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa. Nilai transaksi dalam pesanan tersebut tercatat sekitar Rp450 ribu.
Namun, setibanya di lokasi pengantaran, Maruli tidak menemukan pihak yang merasa melakukan pemesanan. Setelah dilakukan pengecekan, pesanan tersebut diduga merupakan order fiktif dan kemudian dibatalkan oleh sistem aplikasi Gojek usai dilaporkan oleh Maruli kepada pihak aplikasi.
“Sesampainya di lokasi, tidak ada yang mengaku memesan. Setelah saya laporkan, orderan itu dibatalkan oleh sistem,” kata Maruli saat dikonfirmasi.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 13.00 WIB, Maruli mendapat informasi dari rekan sesama driver bahwa fotonya dipajang di area gerai Mie Gacoan. Foto tersebut dinilai memberi stigma negatif dan seolah-olah menempatkan dirinya sebagai pelaku pencurian.
Akibat tindakan tersebut, Maruli mengaku mengalami kerugian secara moral serta merasa nama baik dan profesionalismenya sebagai mitra pengemudi tercoreng.
“ Orderan itu dibatalkan oleh sistem karena fiktif. Tapi justru foto saya dipajang, seakan-akan saya maling. Ini sangat merugikan saya,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Sasya selaku manajer Mie Gacoan yang bertugas saat kejadian menyampaikan bahwa pihaknya menerima pesanan sekitar siang hari dengan nilai kurang lebih Rp470 ribu untuk sekitar 27 porsi mi. Pesanan tersebut kemudian ter-cancel secara tiba-tiba.
“Orderan seperti ini sering terjadi. Karena pesanan sudah keluar dan driver tidak bisa dihubungi, kami berinisiatif memajang foto driver agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Sasya.
Ia juga mengakui bahwa pihak gerai tidak mengetahui secara detail mekanisme sistem Gojek, khususnya terkait pembayaran yang tetap masuk meskipun pesanan dibatalkan oleh sistem.
“ Kami berpikir jika orderan ter-cancel, maka uang tidak masuk. Tapi kenyataannya pesanan sudah dibawa keluar. Kami merasa dirugikan hampir Rp500 ribu dan akhirnya mencoba memviralkan, ” tambahnya.
Meski demikian, tindakan memajang foto driver di ruang publik dinilai berpotensi melanggar etika serta dapat dikategorikan sebagai dugaan pencemaran nama baik apabila tidak disertai bukti yang sah.
Atas kejadian tersebut, Maruli berharap pihak Mie Gacoan maupun Gojek dapat memberikan klarifikasi terbuka serta segera menurunkan foto dirinya. Ia juga meminta adanya penyelesaian yang adil demi menjaga nama baik dan profesionalisme driver sebagai mitra transportasi daring.
(Ari)
- Penulis: redaksi









Saat ini belum ada komentar