Peristiwa

Hujan Abu Vulkanik Guyur Bandar Lampung, Warga Way Halim Keluhkan Debu Masuk Mata

DEMOKRATIS.ID – Bandar Lampung – Malam yang biasanya cerah mendadak berubah kelabu. Sejak Sabtu sore, 5 September 2026, hujan abu vulkanik tipis mengguyur sebagian wilayah Kota Bandar Lampung. Way Halim jadi salah satu titik yang paling terasa dampaknya.

Bukan air yang jatuh dari langit, melainkan debu halus berwarna abu-abu. Debu itu menempel di spion motor, jemuran, hingga teras rumah warga. Sabtu,(5/9/2026).

“Ya mas, hari ini aneh. Dari sore tadi debu-debu bertebaran, apalagi pas naik motor masuk ke mata. Mungkin akibat letusan Anak Krakatau,” kata Riko, 28, pengendara ojek online yang melintas di Way Halim.

Keluhan serupa disampaikan Sahrul, tukang parkir di kawasan yang sama. “Debunya banyak sampai masuk ke mata. Ditambah anginnya kencang dan beda dari biasanya,” ujarnya.

Erupsi Anak Krakatau Picu Abu Sampai ke Lampung

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi – PVMBG, fenomena ini tidak lepas dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Dalam laporan periode 00.00–06.00 WIB, Sabtu 5 September 2026, gunung yang berada di Selat Sunda itu masih berstatus Level III Siaga. Erupsi berlangsung menerus sejak Jumat malam.

Puncaknya, pada pukul 23.07 WIB, 4 September 2026, teramati fenomena lava fountain atau semburan lava ke udara. Dentuman dan suara gemuruh juga terdengar dari pos pengamatan.

“Arah angin bertiup lemah hingga sedang ke barat laut. Itu yang membuat abu vulkanik terbawa hingga ke daratan Lampung,” jelas petugas PVMBG.

Tak hanya Bandar Lampung. Pantauan di lapangan menunjukkan debu serupa juga menutupi kendaraan dan rumah warga di Natar dan Pringsewu.

BPBD: Pakai Masker, Jangan Panik Soal Tsunami

Menyikapi kondisi ini, BPBD Kota Bandar Lampung bersama BNPB dan PVMBG segera mengeluarkan imbauan.

Warga diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Tujuannya agar partikel silika dalam abu tidak terhirup dan mengganggu pernapasan. Pengendara juga disarankan memakai kacamata atau helm full face untuk melindungi mata.

Selain itu, masyarakat diminta menutup rapat sumber air dan makanan. Untuk keamanan, radius 3 km dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau masih steril dan tidak boleh didekati.

Terkait kepanikan soal potensi tsunami, BNPB menegaskan tidak perlu khawatir berlebihan.
“Pertumbuhan tubuh Anak Krakatau saat ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi runtuh besar,” demikian pernyataan resmi BNPB.

Hingga berita ini diturunkan, BPBD bersama unsur terkait masih melakukan pemantauan dan patroli di zona terdampak.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *